jump to navigation

Circle of Life 15 July 2010

Posted by adhitya nagara in sebuah postingan.
trackback

Malam. Karena saya gak ada kerjaan, trus ditambah kenyataan bahwa XP saya nggak bisa idup (jadi nggak bisa maen Luna/DotA), jadi saya memutuskan untuk menulis blog. Sebenernya punya ide nulis blog ini dari sebulan yang lalu, tapi akhirnya baru kesampean sekarang, hehe, maaf ya para pembaca, lama nggak update <– sok punya pembaca ni orang.

Oke, judul dari blogpost ini adalah ‘Circle of Life’. Beberapa dari kalian mungkin langsung tahu kalau judul tersebut diambil dari theme song-nya Lion King. Yak, emang bener. Dalam postingan ini saya akan menceritakan tentang lingkaran kehidupan saya, mulai dari masa-masa awal kehidupan saya sampai sekarang ini.

Saya mulai dari SMP. Saya bersekolah di SMP Kusuma Bangsa Palembang. Kenapa saya bisa memilih SMP ini? Sejujurnya, saya tidak pernah terpikir untuk masuk sini, karena saat SD kelas 6 saya mantap bertujuan untuk melanjutkan ke SMP Xaverius 3. Ceritanya, tiba-tiba orangtua saya bilang, ‘Coba masuk SMP ini aja ya? Baru dibuka nih.’ FYI, SMP Kusuma Bangsa berdiri pada tahun 2002, dan saat itu sudah tahun kedua. Saya sempat berdebat dengan orangtua saya. Kalau saya masuk SMP itu, nanti saya nggak punya teman, karena temen SD saya kebanyakan lanjut ke SMP Xav3. Terus, pertimbangan saya yang ke-2 adalah SMP tersebut termasuk kategori ‘elit’, dimana pasti orang-orangnya pinter, kece, gaul dan tajir. Saya orangnya gampang minder. Gimana mau bergaul dengan orang-orang ‘elit’? Saya sama sekali nggak punya pengalaman!

Setelah berdebat hebat dengan ortu (lebay), akhirnya saya menyetujui untuk ikut tes dulu. Paling juga nggak keterima, pikir saya dalam hati. Akhirnya hari H pun datang. FYI, saya merupakan pendaftar TERAKHIR gelombang I. Soalnya lumayan aneh, karena saya sama sekali nggak niat masuk Kumbang akhirnya saya asal ngisi. Beberapa minggu kemudian hasil masuk, tanpa berharap apa-apa, saya melangkah masuk gedung mungil tersebut (dulu gedungnya masih di pantatnya gedung SMA). Langsung saja mata saya menuju list terakhir pengumuman tersebut. Disana tertera dengan indah gemulai nan rupawan nomor pendaftaran saya. I was all like, ‘I’m doomed. Totally doomed.’

Saya diterima! Perasaan saya waktu itu fifty fifty. Antara kecewa, karena harus lanjut ke suatu jenjang kehidupan yang sama sekali BARU, dan puas, karena walau saya jawab asal-asalan saat tes, ternyata saya tetap diterima. Yang membuat saya mencetuskan suatu teori baru. Teori ini saya sebut Teori Kuantum XVII. ‘Bahwa kalau anda jawab asal-asalan saat tes masuk SMP Kusuma Bangsa, anda akan tetap diterima, terutama kalau anda obesitas, berkacamata-tebal, dan berkaki 2.’

Yak, dan dimulailah masa-masa SMP saya di Kusuma Bangsa. Oh ya, ngomong-ngomong, ternyata ada juga temen SD yang masuk Kumbang, hanya satu sayangnya. Dia adalah Kezia. Dimana nantinya saya akan satu kelas dengan dia selama 3 tahun berturut-turut (5 tahun bila SD dihitung).

Sedikit curhat, saya orangnya susah bergaul. Apalagi kalau bergaul sama macan. Selama saya kelas 1 SMP, hanya satu orang yang saya anggap benar-benar teman. Yang nantinya akan membuahkan suatu masalah ketika dia mulai bergaul dengan orang lain, dan saya hanya stuck temenan dengan dia saja. Pertemanan saya dengan dia mulai renggang, saya jadi merasa sendirian, tidak dipedulikan seperti emo dilindes kereta. Tapi pada akhirnya saya berhasil melewati masa sulit tersebut, karena nantinya saya mulai lebih terbuka untuk berteman di lingkup yang lebih luas. Dan sekadar informasi, saya akhirnya 6 tahun sekelas dengan orang tersebut (ditambah masa-masa SMA), muahaha.

Masa-masa SMP adalah masa dimana saya bisa belajar dengan lumayan serius. Terbukti pada saat kelas 1 saya berhasil masuk ranking 3 (rank 1 waktu itu si Sandro, dan 2 Mita). Hal ini membuat saya cukup bangga. Ternyata si bocah kuper yang ngasal jawab saat tes penerimaan ini bisa juga dapet ranking yang lumayan tinggi di kelas. Saat kelas 2 SMP adalah masa paling suram sepanjang hidup saya di SMP. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya punya sedikit masalah dengan teman saya yang satu itu, trus karena waktu itu lagi marak game Online seperti RO, PangYa dan segala macemnya, saya jadi nggak fokus belajar. Rekor saya waktu itu adalah Matematika 4 di rapor. Sumpah beneran nggak kebayang parahnya saya pas kelas 2. Lalu saya bertekad untuk lebih fokus di kelas 3 nanti. Dan untunglah tekad tersebut membuahkan hasil, pada mid semester II saya meraih ranking II (sebenernya nilai rank 1 & 2 sama, tapi karena si Elis Matematikanya lebih tinggi dari saya, akhirnya saya dikasih ranking ke-2, grrr!!!). Pada saat kelulusan, saya berhasil mempertahankan posisi tersebut. Ahhh bangga sekali saya…

SMP berlalu, jas hijau kekecilan serta sweater biru kumal tersebut hanya akan tinggal sejarah. ID Card yang gantungannya gampang rusak akan tak akan lagi kugantungkan di kantung… Lingkaran kehidupan tersebut sudah menutup, membuka lingkaran kehidupan selanjutnya, tingkat SMA. Dikisahkan oleh dongeng serta fabel bahwa masa SMA adalah masa paling indah dari kehidupan kita. Waktu itu saya berpikir ‘Masa-masa SMP saya sudah menyenangkan, mungkinkah ada yang lebih dari ini?’

Masa SMA saya dimulai. Hal pertama yang saya sadari: saya tidak satu kelas dengan mayoritas teman-teman SMP saya!! Mereka masuk X.1, sedangkan saya X.2. Banyak anak-anak baru, dan hanya 2 atau 3 yang satu kelas dengan saya pas SMP. It’s gonna be one hell of a class! Tak banyak yang saya bisa ingat saat SMA kelas 1, karena benar-benar tidak ada yang signifikan. Yang pasti saya berhasil berteman baik dengan Abi, Andre dan Sendi. Yang pada akhirnya akan menjadi teman baik saya sampai sekarang J

Memasuki tahun ke-2. Inilah awal dari semua cerita-cerita, kisah-kisah yang nantinya akan memenuhi kehidupan saya, terukir indah dalam hati. Saya kembali satu kelas dengan mayoritas teman SMP saya, yang membuat saya sangat senang. Saya juga satu kelas dengan Abi, Andre dan Sendi. Secara keseluruhan, masa-masa ini sungguh menyenangkan. Lalu dilanjutkan di kelas 3 dengan pasukan yang sama. Dan pada akhirnya saya harus meninggalkan keluarga besar ini, dengan berat hati saya melangkah…

Lingkaran baru terbentuk. Saya diterima di FK UNSRI, senang setengah mati rasanya bisa masuk fakultas kedokteran. Saya saat itu sedang berada di Jakarta karena mau tes Trisakti. Teman-teman yang di Palembang bilang kalo saya diterima di FK. Ada yang ngasih selamat, ada yang sms bilang ‘Dit kau diterima di FK jugo ye?’. Paling tidak, ada teman dari Kumbang yang juga diterma. Namun muncul lagi masalah, masalah yang sama ketika saya harus pindah dari Xaverius ke Kumbang. Perubahan kali ini adalah dari Kumbang ke UNSRI dan ternyata dari kelas saya (tanpa mengurangi rasa hormat), hanya saya yang diterima di fakultas tersebut. Ini adalah suatu masalah yang BESAR buat saya. Saya nanti akan dikelilingi suatu kelompok yang baru, suatu lingkaran baru…

Pernah saya tulis di Facebook; ‘Friends come and go, they move on if the have to. Me? I must move on – but I don’t want to.’ Ini menggambarkan suasana hati saya waktu itu. Saya berpikir, ‘Dimana Andre ketika saya butuh teman lawak? Dimana Tasa ketika saya butuh teman yang pengertian? Dimana Rara ketika saya butuh teman curhat? Dimana Sendi ketika saya butuh supir? (loh!?) Apakah saya akan bisa bertahan di lingkungan baru ini?

Well we’ll see.

‘A Circle has no beginning.’ – Luna Lovegood.

Suatu lingkaran kehidupan datang begitu saja, dan pergi begitu saja. Jangan heran bila suatu saat kau harus pergi meninggalkan suatu lingkaran menuju lingkaran lain…

Good luck, have fun, happy birthday, good night, cheers!

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: